Selasa, 17 Maret 2015

Mama



Ibarat malaikat tanpa sayap. Malaikat yang rela rahim perutnya disesaki raga seorang janin. Malaikat yang rela kakinya membengkak sebab menanggung berat janin yang di kandung nya. Malaikat yang rela perutnya di tendang ketika janin itu semakin tumbuh dan berkembang. Dan malaikat yang merelakan perutnya dirobek ketika persalinan normal tak sanggup ia lewati.
 

Aku sebut malaikat itu Mama. Darah miliknya mengalir dalam darahku. Begitu pula dengan nadinya, ia ikut serta berdenyut di tanganku. Namun pernah suatu ketika jantung ku berdegup karena kesedihan, anehnya ia turut merasakan kesedihanku. Ia bukan peramal. Namun ia selalu benar menerka suasana hatiku meski tanpa bertanya. It’s weird but it’s real.

Hangat rasanya ketika memandang ia tersenyum. Entahlah. Mungkin karena aku terlalu takut kehilangan senyumnya. Kehilangan senyum yang seketika bisa saja berubah menjadi amarah ketika aku berulah. Amarah yang meluap. Sehingga tak jarang membuatku membencinya ketika ia meluapkan amarah itu. Namun belaian kasih nya melunturkan kebencianku. Tak pantas bila sepercik kebencian tumbuh dalam benak ku.
 
Kedamaian menjalar ketika ia mendekapku. Kedamaian yang tiada tara rasanya. Tersenyum manja satu sama lain. Saling menatap dan saling memperhatikan. Ia mengomel menasehati. Lucu sekali rasanya melihat ia menasehatiku seperti layaknya menasehati anak balita. Namun aku sangat menyukai perlakuan ini. Sebab yang aku tau, perlakuan demikian hanya semata untuk mengungkapkan rasa kasih sayangnya.

Mama selalu meresapkan harumnya cinta di dalam hati ini. Selalu mengajarkan untuk saling mengasihi serta berbagi. Terutama dengan anak yatim. Karena ia selalu berkata, ini akan berguna untuk kehidupanku nanti. Tidak hanya berguna didalam kehidupan fana, namun sangatlah berguna untuk kehidupan akhirat.

Ia tak pernah letih menjadi tempat berteduhku untuk bernaung. Mengadukan segala hal yang telah terjadi. Mendengus kesal seperti halnya gadis kecil yang sedang meminta es krim. Aku bukan gadis yang selalu tegar menghadapi suatu masalah. Untungnya, Tuhan menitipkanku kepada seorang  wanita yang menuntunku untuk selalu tegar dalam setiap masalah. Tegar untuk menyelesaikan masalah tanpa harus mengadu kepada orang lain.
  
Memandang lekat ketika ia tidur, membuat hati terasa pilu. Terasa pilu yang teramat sangat dalam. Kerutan kening nya mulai tampak. Usia rambut yang tumbuh 38 tahun lamanya, kini sudah mulai beruban. Terlalu rapuh termakan usia. Kulit putihnya juga perlahan mulai luntur. Dan semakin yang membuat pilu, daya ingatnya semakin menurun, mudah untuk lupa.
 
Terlalu sering aku melukai hatinya melalui perkataan ku. Membuatnya kecewa atas tingkah laku ku. Namun sayang, aku tak pernah menyadari kesalahanku. Mama sangat mahir memasang kedok wajah tersenyum tatkala hatinya sedang lara karenaku. Ia menegurku hanya dengan cara menyindir halus.  
  
Bila teringat tentang Mama, aku selalu tersungkur sujud mencium sajadah. Menitihkan haru mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Mendoakan Mama dalam kekhusyukan. Berharap akan senantiasa menemani suka-duka dalam hari ku. Berharap akan selalu terlimpahkan kebahagiaan. Berharap akan selalu menuntunku keluar dari sifat fana dunia. Serta berharap akan segera memenuhi pintanya sebelum ia pergi jauh mendahuluiku.