Ibarat malaikat tanpa sayap. Malaikat yang rela
rahim perutnya disesaki raga seorang janin. Malaikat yang rela kakinya
membengkak sebab menanggung berat janin yang di kandung nya. Malaikat yang rela
perutnya di tendang ketika janin itu semakin tumbuh dan berkembang. Dan
malaikat yang merelakan perutnya dirobek ketika persalinan normal tak sanggup
ia lewati.
Aku sebut malaikat itu Mama. Darah miliknya mengalir
dalam darahku. Begitu pula dengan nadinya, ia ikut serta berdenyut di tanganku.
Namun pernah suatu ketika jantung ku berdegup karena kesedihan, anehnya ia
turut merasakan kesedihanku. Ia bukan peramal. Namun ia selalu benar menerka
suasana hatiku meski tanpa bertanya. It’s weird but it’s real.
Hangat rasanya ketika memandang ia tersenyum.
Entahlah. Mungkin karena aku terlalu takut kehilangan senyumnya. Kehilangan
senyum yang seketika bisa saja berubah menjadi amarah ketika aku berulah.
Amarah yang meluap. Sehingga tak jarang membuatku membencinya ketika ia
meluapkan amarah itu. Namun belaian kasih nya melunturkan kebencianku. Tak
pantas bila sepercik kebencian tumbuh dalam benak ku.
Kedamaian menjalar ketika ia mendekapku. Kedamaian
yang tiada tara rasanya. Tersenyum manja satu sama lain. Saling menatap dan
saling memperhatikan. Ia mengomel menasehati. Lucu sekali rasanya melihat ia
menasehatiku seperti layaknya menasehati anak balita. Namun aku sangat menyukai
perlakuan ini. Sebab yang aku tau, perlakuan demikian hanya semata untuk
mengungkapkan rasa kasih sayangnya.
Mama selalu meresapkan harumnya cinta di dalam hati
ini. Selalu mengajarkan untuk saling mengasihi serta berbagi. Terutama dengan
anak yatim. Karena ia selalu berkata, ini akan berguna untuk kehidupanku nanti.
Tidak hanya berguna didalam kehidupan fana, namun sangatlah berguna untuk
kehidupan akhirat.
Ia tak pernah letih menjadi tempat berteduhku untuk
bernaung. Mengadukan segala hal yang telah terjadi. Mendengus kesal seperti
halnya gadis kecil yang sedang meminta es krim. Aku bukan gadis yang selalu
tegar menghadapi suatu masalah. Untungnya, Tuhan menitipkanku kepada
seorang wanita yang menuntunku untuk selalu tegar dalam setiap masalah.
Tegar untuk menyelesaikan masalah tanpa harus mengadu kepada orang lain.
Memandang lekat ketika ia tidur, membuat hati terasa
pilu. Terasa pilu yang teramat sangat dalam. Kerutan kening nya mulai tampak.
Usia rambut yang tumbuh 38 tahun lamanya, kini sudah mulai beruban. Terlalu
rapuh termakan usia. Kulit putihnya juga perlahan mulai luntur. Dan semakin
yang membuat pilu, daya ingatnya semakin menurun, mudah untuk lupa.
Terlalu sering aku melukai hatinya melalui perkataan
ku. Membuatnya kecewa atas tingkah laku ku. Namun sayang, aku tak pernah
menyadari kesalahanku. Mama sangat mahir memasang kedok wajah tersenyum tatkala
hatinya sedang lara karenaku. Ia menegurku hanya dengan cara menyindir halus.
Bila teringat tentang Mama, aku selalu tersungkur
sujud mencium sajadah. Menitihkan haru mengucap syukur kepada Sang Pencipta.
Mendoakan Mama dalam kekhusyukan. Berharap akan senantiasa menemani suka-duka
dalam hari ku. Berharap akan selalu terlimpahkan kebahagiaan. Berharap akan
selalu menuntunku keluar dari sifat fana dunia. Serta berharap akan segera
memenuhi pintanya sebelum ia pergi jauh mendahuluiku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar